Suatu ketika saya melihat pidato
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di televisi kurang lebih seminggu yang lalu.
Beliau mengatakan bahwa Indonesia saat ini menjadi negara dengan perekonomian
terbesar nomor sepuluh di dunia berdasarkan penilaian yang dikeluarkan oleh
Bank Dunia. Lebih lanjut menurut beliau, Indonesia mampu berada di jalur yang
benar untuk bersaing dengan negara-negara lainnya seperti China ataupun Amerika
Serikat dalam hal pertumbuhan ekonomi. Terbesit dalam pikiran saya apakah
pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diberitakan oleh Bank Dunia sudah dirasakan
betul-betul oleh seluruh rakyatnya. Jika benar pertumbuhan tersebut berpengaruh
tentunya ada peningkatan kualitas hidup dari rakyat Indonesia baik dari
turunnya tingkat kemiskinan dan tingkat pendidikan yang semakin baik. Menarik
jika kita melihat data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS)
mengenai jumlah orang miskin serta kualitas pendidikan di Indonesia. Data per
September 2013 mengemukakan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia mencapai
11,47 persen. Angka ini meningkat sebesar 0,1 persen dari bulan Maret pada
periode tahun yang sama. Sementara itu dari tingkat pendidikan, penduduk
Indonesia yang tamat hingga bangku Sekolah Menengah Atas atau SMA mencapai 31,
13 persen. Selanjutnya sebesar 28,09
persen hanya tamat hingga bangku Sekolah Dasar (SD) dan 21 persen hanya tamat
hingga bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sekitar 5,88 persen penduduk Indonesia
yang belum bersekolah sama sekali.
Data diatas memperlihatkan bahwa
hasil penilaian Bank Dunia yang menyebutkan Indonesia telah mencapai sepuluh
besar ekonomi dunia rasanya kurang relevan dengan keadaan yang terjadi
sebenarnya. Tingkat kemiskinan yang masih tinggi serta tingkat pendidikan
Indonesia yang masih dikatakan rendah karena banyak masyarakatnya belum
mencapai tingkat sarjana menunjukkan bukti yang justru berbanding terbalik
dengan penilaian tersebut. Ini membuktikan bahwa memang pembangunan ekonomi di
Indonesia belum sepenuhnya baik karena masih ada kekurangan-kekurangan yang
belum terselesaikan. Tentu ini menyadarkan pemerintah bahwa Indonesia harus
lebih giat dalam memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut agar penilaian Bank
Dunia tidak hanya penghargaan semata melainkan bukti riil bahwa pembangunan di negara
tersebut dirasakan oleh semua rakyatnya. Perlu ada sebuah master plan
baru dengan berisi rencana untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan standar
pendidikan. Agar rencana tersebut berjalan lebih cepat dan maksimal perlu
dibangun sebuah kerjasama antar pihak-pihak yang terkait seperti organisasi-organisasi
sosial yang ada di Indonesia sebagai pelaksana di lapangan. Sinergi tersebut bisa
dijadikan sebuah alternatif untuk membantu pemerintah lebih cepat merealisasikan
rencana tersebut. Saat ini sudah banyak organisasi-organisasi yang aktif
bergerak di bidang sosial termasuk membantu pemberdayaan masyarakat dari segi
ekonomi maupun pendidikan. Salah satu organisasi sosial yang cukup terkenal dan
berpengalaman di Indonesia yaitu Dompet Dhuafa. Dompet Dhuafa merupakan satu
dari sekian organisasi sosial di Indonesia yang telah lama aktif membantu
mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan mutu pendidikan lewat program
pemberdayaan masyarakat. Organisasi yang berdiri pada tahun 1993 tersebut memiliki
banyak cabang di Indonesia dan cukup berpengalaman dalam melakukan
kegiatan-kegiatan di bidang sosial.
Tentunya dengan kelebihan-kelebihan
tersebut, Dompet Dhuafa dapat dapat dijadikan patner untuk membantu pemerintah dalam
mengatasi masalah kemiskinan dan tingkat pendidikan yang dihadapi saat ini. Bentuk
kerjasama ini nantinya dapat menggunakan tema “Indonesia Move On” yang artinya kerjasama ini bertujuan untuk
membantu indonesia dapat bangkit dan dapat bersaing dengan negara-negara maju
dalam hal pertumbuhan ekonomi. Kerjasama ini juga nantinya dapat dilaksanakan mencakup
seluruh wilayah tak terkecuali daerah-daerah terluar di Indonesia. Dengan
adanya bantuan dari Dompet Dhuafa tersebut maka ada suatu nilai lebih yang
didapatkan oleh pemerintah yaitu adanya tambahan tim pelaksana di lapangan yang
membantu tugas pemerintah dalam hal mengentaskan
kemiskinan dan meningkatkan mutu pendidikan.
Bentuk aktualisasi kerjasama ini
dapat dimulai dengan cara pemerintah pusat atau daerah menyalurkan dana
pemberdayaan masyarakat yang ada di pos anggaran untuk disalurkan melalui
Dompet Dhuafa. Nantinya organisasi tersebut akan menggunakan dana yang
disalurkan pemerintah tadi untuk membuat program-program tertentu yang
mendukung rencana pemerintah seperti gerakan wirausaha masyarakat kurang mampu
dan sekolah rakyat yang berisi pengajar-pengajar dari universitas terkenal di
Indonesia. Sebagai contoh, program-program tersebut dapat diawali dari kawasan Indonesia
bagian timur seperti di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua. NTT dan
Papua adalah dua provinsi di Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang
cukup melimpah. Meski begitu, hal ini tidak berpengaruh terhadap kualitas hidup
masyarakatnya karena mereka tidak menikmati kekayaan alam yang di daerah mereka.
Bahkan yang lebih miris lagi, kedua provinsi ini masuk kategori daerah
termiskin di Indonesia menurut Menteri Koordinator Kesejahteraan Republik
Indonesia yaitu Agung Laksono. Melihat kenyataan yang sedang terjadi di kedua provinsi
tersebut, tentu saat ini masyarakat disana mengharapkan bantuan secepatnya dari
pemerintah untuk memperbaiki kualitas hidup mereka. Dompet Dhuafa dapat segera
bergerak untuk memberi bantuan sesuai program yang telah mereka susun. Organisasi
ini dapat melaksanakan program gerakan wirausaha masyarakat kurang mampu di
kedua daerah ini. Nantinya masyarakat akan diberi pelatihan khusus dalam
membuat sesuatu barang yang dapat dijual. Selanjutnya Dompet Dhuafa juga memfasilitasi
mereka dengan modal usaha serta membantu pemasaran barang yang telah dibuat
untuk dijual ke daerah-daerah di luar NTT dan Papua.
Sementara itu dari segi
pendidikan, pihak Dompet Dhuafa dapat bekerja sama dengan
universitas-universitas terkenal seperti Universitas Indonesia (UI) di Depok,
Universitas Gajad Mada (UGM) di Yogyakarta atau Universitas Airlangga di Surabaya
untuk membantu mereka dengan cara mengirimkan tenaga pengajar yaitu para
mahasiswa ataupun dosen untuk mengajar di daerah NTT dan Papua. Dompet Dhuafa
dapat memfasilitasi berupa pendirian sekolah
rakyat bagi masyarakat di sana. Sekolah rakyat ini nantinya membidik anak-anak
dan pemuda yang putus sekolah agar mereka mau kembali belajar dan tanpa
dipungut biaya. Para tenaga pengajar pun tidak perlu memikirkan tempat tinggal ataupun
akomodasi lainnya selama mengajar karena semuanya ditanggung oleh pihak Dompet
Dhuafa. Dengan begitu para tenaga pengajar bisa fokus mengajarkan anak-anak dan
pemuda di sana tanpa memikirkan sesuatu apapun. Ini hanya salah satu bentuk
contoh dari implementasi kerjasama yang dapat dilaksanakan antara pihak Dompet
Dhuafa dan pemerintah. Diharapkan program ini bisa betul-betul direalisasikan di
masa mendatang agar pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dikatakan masuk sepuluh
besar dunia betul-betul dirasakan oleh semua masyarakatnya.
Keyword : Dompet Dhuafa, Indonesia Move On