Saturday, 10 May 2014

Menuju Pemerataan Kesejahteraan di Indonesia


Suatu ketika saya melihat pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di televisi kurang lebih seminggu yang lalu. Beliau mengatakan bahwa Indonesia saat ini menjadi negara dengan perekonomian terbesar nomor sepuluh di dunia berdasarkan penilaian yang dikeluarkan oleh Bank Dunia. Lebih lanjut menurut beliau, Indonesia mampu berada di jalur yang benar untuk bersaing dengan negara-negara lainnya seperti China ataupun Amerika Serikat dalam hal pertumbuhan ekonomi. Terbesit dalam pikiran saya apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diberitakan oleh Bank Dunia sudah dirasakan betul-betul oleh seluruh rakyatnya. Jika benar pertumbuhan tersebut berpengaruh tentunya ada peningkatan kualitas hidup dari rakyat Indonesia baik dari turunnya tingkat kemiskinan dan tingkat pendidikan yang semakin baik. Menarik jika kita melihat data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai jumlah orang miskin serta kualitas pendidikan di Indonesia. Data per September 2013 mengemukakan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 11,47 persen. Angka ini meningkat sebesar 0,1 persen dari bulan Maret pada periode tahun yang sama. Sementara itu dari tingkat pendidikan, penduduk Indonesia yang tamat hingga bangku Sekolah Menengah Atas atau SMA mencapai 31, 13 persen.  Selanjutnya sebesar 28,09 persen hanya tamat hingga bangku Sekolah Dasar (SD) dan 21 persen hanya tamat hingga bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sekitar 5,88 persen penduduk Indonesia yang belum bersekolah sama sekali.
Data diatas memperlihatkan bahwa hasil penilaian Bank Dunia yang menyebutkan Indonesia telah mencapai sepuluh besar ekonomi dunia rasanya kurang relevan dengan keadaan yang terjadi sebenarnya. Tingkat kemiskinan yang masih tinggi serta tingkat pendidikan Indonesia yang masih dikatakan rendah karena banyak masyarakatnya belum mencapai tingkat sarjana menunjukkan bukti yang justru berbanding terbalik dengan penilaian tersebut. Ini membuktikan bahwa memang pembangunan ekonomi di Indonesia belum sepenuhnya baik karena masih ada kekurangan-kekurangan yang belum terselesaikan. Tentu ini menyadarkan pemerintah bahwa Indonesia harus lebih giat dalam memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut agar penilaian Bank Dunia tidak hanya penghargaan semata melainkan bukti riil bahwa pembangunan di negara tersebut dirasakan oleh semua rakyatnya. Perlu ada sebuah master plan baru dengan berisi rencana untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan standar pendidikan. Agar rencana tersebut berjalan lebih cepat dan maksimal perlu dibangun sebuah kerjasama antar pihak-pihak yang terkait seperti organisasi-organisasi sosial yang ada di Indonesia sebagai pelaksana di lapangan. Sinergi tersebut bisa dijadikan sebuah alternatif untuk membantu pemerintah lebih cepat merealisasikan rencana tersebut. Saat ini sudah banyak organisasi-organisasi yang aktif bergerak di bidang sosial termasuk membantu pemberdayaan masyarakat dari segi ekonomi maupun pendidikan. Salah satu organisasi sosial yang cukup terkenal dan berpengalaman di Indonesia yaitu Dompet Dhuafa. Dompet Dhuafa merupakan satu dari sekian organisasi sosial di Indonesia yang telah lama aktif membantu mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan mutu pendidikan lewat program pemberdayaan masyarakat. Organisasi yang berdiri pada tahun 1993 tersebut memiliki banyak cabang di Indonesia dan cukup berpengalaman dalam melakukan kegiatan-kegiatan di bidang sosial.
Tentunya dengan kelebihan-kelebihan tersebut, Dompet Dhuafa dapat dapat dijadikan patner untuk membantu pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan dan tingkat pendidikan yang dihadapi saat ini. Bentuk kerjasama ini nantinya dapat menggunakan tema “Indonesia Move On”  yang artinya kerjasama ini bertujuan untuk membantu indonesia dapat bangkit dan dapat bersaing dengan negara-negara maju dalam hal pertumbuhan ekonomi. Kerjasama ini juga nantinya dapat dilaksanakan mencakup seluruh wilayah tak terkecuali daerah-daerah terluar di Indonesia. Dengan adanya bantuan dari Dompet Dhuafa tersebut maka ada suatu nilai lebih yang didapatkan oleh pemerintah yaitu adanya tambahan tim pelaksana di lapangan yang membantu tugas pemerintah  dalam hal mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan mutu pendidikan. 
Bentuk aktualisasi kerjasama ini dapat dimulai dengan cara pemerintah pusat atau daerah menyalurkan dana pemberdayaan masyarakat yang ada di pos anggaran untuk disalurkan melalui Dompet Dhuafa. Nantinya organisasi tersebut akan menggunakan dana yang disalurkan pemerintah tadi untuk membuat program-program tertentu yang mendukung rencana pemerintah seperti gerakan wirausaha masyarakat kurang mampu dan sekolah rakyat yang berisi pengajar-pengajar dari universitas terkenal di Indonesia. Sebagai contoh, program-program tersebut dapat diawali dari kawasan Indonesia bagian timur seperti di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua. NTT dan Papua adalah dua provinsi di Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang cukup melimpah. Meski begitu, hal ini tidak berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakatnya karena mereka tidak menikmati kekayaan alam yang di daerah mereka. Bahkan yang lebih miris lagi, kedua provinsi ini masuk kategori daerah termiskin di Indonesia menurut Menteri Koordinator Kesejahteraan Republik Indonesia yaitu Agung Laksono. Melihat kenyataan yang sedang terjadi di kedua provinsi tersebut, tentu saat ini masyarakat disana mengharapkan bantuan secepatnya dari pemerintah untuk memperbaiki kualitas hidup mereka. Dompet Dhuafa dapat segera bergerak untuk memberi bantuan sesuai program yang telah mereka susun. Organisasi ini dapat melaksanakan program gerakan wirausaha masyarakat kurang mampu di kedua daerah ini. Nantinya masyarakat akan diberi pelatihan khusus dalam membuat sesuatu barang yang dapat dijual.  Selanjutnya Dompet Dhuafa juga memfasilitasi mereka dengan modal usaha serta membantu pemasaran barang yang telah dibuat untuk dijual ke daerah-daerah di luar NTT dan Papua.  
Sementara itu dari segi pendidikan, pihak Dompet Dhuafa dapat bekerja sama dengan universitas-universitas terkenal seperti Universitas Indonesia (UI) di Depok, Universitas Gajad Mada (UGM) di Yogyakarta atau Universitas Airlangga di Surabaya untuk membantu mereka dengan cara mengirimkan tenaga pengajar yaitu para mahasiswa ataupun dosen untuk mengajar di daerah NTT dan Papua. Dompet Dhuafa dapat memfasilitasi  berupa pendirian sekolah rakyat bagi masyarakat di sana. Sekolah rakyat ini nantinya membidik anak-anak dan pemuda yang putus sekolah agar mereka mau kembali belajar dan tanpa dipungut biaya. Para tenaga pengajar pun tidak perlu memikirkan tempat tinggal ataupun akomodasi lainnya selama mengajar karena semuanya ditanggung oleh pihak Dompet Dhuafa. Dengan begitu para tenaga pengajar bisa fokus mengajarkan anak-anak dan pemuda di sana tanpa memikirkan sesuatu apapun. Ini hanya salah satu bentuk contoh dari implementasi kerjasama yang dapat dilaksanakan antara pihak Dompet Dhuafa dan pemerintah. Diharapkan program ini bisa betul-betul direalisasikan di masa mendatang agar pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dikatakan masuk sepuluh besar dunia betul-betul dirasakan oleh semua masyarakatnya.

Keyword : Dompet Dhuafa, Indonesia Move On